3 Pola Pikir Wirausaha Sebuah Solusi untuk Dunia Pendidikan
Secara sederhana, wirausaha bisa diartikan sebagai kegiatan mencapai tujuan ekonomi dengan cara menciptakan sesuatu yang baru melalui inovasi. Jika dikaitkan dengan dunia kerja, Wirausaha adalah bagian paling vital dalam menentukan laju pertumbuhan bisnis.
Tak ada satupun pimpinan sebuah perusahaan yang maju tidak memiliki pola pikir wirausaha. Jadi pola pikir wirausaha merupakan aset penting dalam dunia kerja. Karir yang cemerlang akan terbangun ketika seorang pekerja memiliki kemampuan berwirausaha. Sebagian orang masih mengartikan wirausaha sebagai kegiatan berdagang atau jual-beli.
Hal ini tidak salah, jika merujuk pada definisi sederhana diatas. Dalam dunia bisnis, pola pikir wirausaha mutlak diperlukan agar bisa bersaing dan mengembangkan bisnisnya.
Secara sederhana, pola pikir wirausaha terbagi dalam tiga platform, yaitu
Inovasi, Improvisasi, dan Independensi.
Inovasi
Dalam dunia wirausaha, inovasi memiliki peran cukup vital. Inovasi yang dimaksud disini adalah kemampuan membaca peluang dan meraihnya ketika kesempatanitu berdatangan. Inovasi juga berarti menciptakan sesuatu yang baru. Dalam proses menjembatani antara dunia pendidikan dengan dunia kerja, pola pikir inovatifatau kreatif yang dimiliki oleh lulusan sekolah/perguruan tinggi akan sangat membantunya dalam beradaptasi dengan dunia kerja. Ketika seorang karyawan baru diterima di sebuah perusahaan, ilmu yang didapatkannya selama menempuh pendidikan baru akan benar-benar teraplikasikan dengan baik ketika dia menerapkan pola pikir berbasis inovasi.
Perusahaan sering memberikan kesempatan bagi karyawan baru untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya melalui sistem kerjasesama karyawan, dan peraturan-peraturan perusahaan. Jika seorang karyawan baru tidak mampu beradaptasi dengan cepat, maka bukan tak mungkin usia kerjanya hanya sebatas usia masa percobaan saja, yaitu 3 bulan.
Pola pikir wirausaha berbasis inovasi idealnya sudah diberikan ketika seseorang masih dalam tahap menempuh bangku pendidikan melalui berbagai kegiatan belajar-mengajar yang mengedepankan perkembangan afektif dan psikomotorik. Penugasan dan ujian yang sifatnya merangsang kemampuan siswa dalam mengembangkan pendapatnya dan lebih banyak mengajak siswa untuk memecahkan berbagai masalah melalui pendekatan masing-masing akan membantu kemampuan siswa dalam menciptakan kemampuannya berinovasi.
Improvisasi
Improvisasi bisa bermakna kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi yang dihadapi dengan melakukan beberapa perubahan. Dari perspektif dunia usaha, improvisasi bisa juga dimaknai sebagai kemampuan melakukan trial and error dalam upaya bertahan ditengah ketatnya persaingan.
Platform Improvisasi dalam pola pikir kewirausahaan adalah salah satu faktor yang akan sangat membantu dalam menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Dengan bekal kemampuan berimprovisasi, seorang karyawan mampu mengembangkan karirnya dan menghadapai persaingan kerja.
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, improvisasi sering mendapat ruang terbatas dalam kegiatan belajar-mengajar. Salah satu contohnya adalah kegiatan belajar-mengajar yang sifatnya satu arah : dari guru ke siswa. Pola-pola belajar sistem diskusi jarang diadakan. Bahkan ruang kelas cenderung statis dengan konsep benar-salah sesuai petunjuk di buku. Diskusi juga tidak terbangun karena siswa takut salah dalam memberikan jawabannya. Hal ini sebenarnya bisa diinisiasi dengan memberikan lebih banyak ruang bagi siswa untuk menyampaikan pendapatnya dan berdiskusi serta melihat permasalahan lebih mendalam bukan sekedar benar-salah. Hal ini akan sangat membantu peningkatan kemampuan improvisasi siswa yang akan dibutuhkan dalam dunia kerja.
Independensi
Ini problem yang cukup klasik di negeri ini. Menjadi seorang karyawan di perusahaan bonafide dengan jabatan bergengsi dan gaji tinggi atau menjadi pegawai negeri sipil yang difasilitasi gaji tetap dan pensiun rutin serta asuransi dan sederet kelebihan lainnya, sudah jadi idaman hampir semua lulusan perguruan tinggi.
Sementara, di sisi lain, lulusan SMU/SMK yang tak mampu meneruskan ke perguruan tinggi berharap bisa mendapat pekerjaan yang minimal cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Namun ada pula sebagian dari mereka berpikir sebaliknya, yaitu membuka usaha sendiri.
Berwirausaha menjadi pilihan satu-satunya karena melamar pekerjaan adalah kegiatan yang jauh lebih boros dibanding membuka usaha sendiri.
Tak ada satupun pimpinan sebuah perusahaan yang maju tidak memiliki pola pikir wirausaha. Jadi pola pikir wirausaha merupakan aset penting dalam dunia kerja. Karir yang cemerlang akan terbangun ketika seorang pekerja memiliki kemampuan berwirausaha. Sebagian orang masih mengartikan wirausaha sebagai kegiatan berdagang atau jual-beli.
Hal ini tidak salah, jika merujuk pada definisi sederhana diatas. Dalam dunia bisnis, pola pikir wirausaha mutlak diperlukan agar bisa bersaing dan mengembangkan bisnisnya.
Secara sederhana, pola pikir wirausaha terbagi dalam tiga platform, yaitu
Inovasi, Improvisasi, dan Independensi.
Inovasi
Dalam dunia wirausaha, inovasi memiliki peran cukup vital. Inovasi yang dimaksud disini adalah kemampuan membaca peluang dan meraihnya ketika kesempatanitu berdatangan. Inovasi juga berarti menciptakan sesuatu yang baru. Dalam proses menjembatani antara dunia pendidikan dengan dunia kerja, pola pikir inovatifatau kreatif yang dimiliki oleh lulusan sekolah/perguruan tinggi akan sangat membantunya dalam beradaptasi dengan dunia kerja. Ketika seorang karyawan baru diterima di sebuah perusahaan, ilmu yang didapatkannya selama menempuh pendidikan baru akan benar-benar teraplikasikan dengan baik ketika dia menerapkan pola pikir berbasis inovasi.
Perusahaan sering memberikan kesempatan bagi karyawan baru untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya melalui sistem kerjasesama karyawan, dan peraturan-peraturan perusahaan. Jika seorang karyawan baru tidak mampu beradaptasi dengan cepat, maka bukan tak mungkin usia kerjanya hanya sebatas usia masa percobaan saja, yaitu 3 bulan.
Pola pikir wirausaha berbasis inovasi idealnya sudah diberikan ketika seseorang masih dalam tahap menempuh bangku pendidikan melalui berbagai kegiatan belajar-mengajar yang mengedepankan perkembangan afektif dan psikomotorik. Penugasan dan ujian yang sifatnya merangsang kemampuan siswa dalam mengembangkan pendapatnya dan lebih banyak mengajak siswa untuk memecahkan berbagai masalah melalui pendekatan masing-masing akan membantu kemampuan siswa dalam menciptakan kemampuannya berinovasi.
Improvisasi
Improvisasi bisa bermakna kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi yang dihadapi dengan melakukan beberapa perubahan. Dari perspektif dunia usaha, improvisasi bisa juga dimaknai sebagai kemampuan melakukan trial and error dalam upaya bertahan ditengah ketatnya persaingan.
Platform Improvisasi dalam pola pikir kewirausahaan adalah salah satu faktor yang akan sangat membantu dalam menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Dengan bekal kemampuan berimprovisasi, seorang karyawan mampu mengembangkan karirnya dan menghadapai persaingan kerja.
Dalam dunia pendidikan di Indonesia, improvisasi sering mendapat ruang terbatas dalam kegiatan belajar-mengajar. Salah satu contohnya adalah kegiatan belajar-mengajar yang sifatnya satu arah : dari guru ke siswa. Pola-pola belajar sistem diskusi jarang diadakan. Bahkan ruang kelas cenderung statis dengan konsep benar-salah sesuai petunjuk di buku. Diskusi juga tidak terbangun karena siswa takut salah dalam memberikan jawabannya. Hal ini sebenarnya bisa diinisiasi dengan memberikan lebih banyak ruang bagi siswa untuk menyampaikan pendapatnya dan berdiskusi serta melihat permasalahan lebih mendalam bukan sekedar benar-salah. Hal ini akan sangat membantu peningkatan kemampuan improvisasi siswa yang akan dibutuhkan dalam dunia kerja.
Independensi
Ini problem yang cukup klasik di negeri ini. Menjadi seorang karyawan di perusahaan bonafide dengan jabatan bergengsi dan gaji tinggi atau menjadi pegawai negeri sipil yang difasilitasi gaji tetap dan pensiun rutin serta asuransi dan sederet kelebihan lainnya, sudah jadi idaman hampir semua lulusan perguruan tinggi.
Sementara, di sisi lain, lulusan SMU/SMK yang tak mampu meneruskan ke perguruan tinggi berharap bisa mendapat pekerjaan yang minimal cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Namun ada pula sebagian dari mereka berpikir sebaliknya, yaitu membuka usaha sendiri.
Berwirausaha menjadi pilihan satu-satunya karena melamar pekerjaan adalah kegiatan yang jauh lebih boros dibanding membuka usaha sendiri.
0 comments:
Post a Comment